Tafsir Hidaytul Insan - Ustadz Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa hafidzahullahu ta'alaTafsir Al
Al Fatihah (1) ayat 6
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayah yang artinya memberi petunjuk ke suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus).
Oleh karenanya kata ihdinaa langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke ….." karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq).
Oleh karena itu, arti ayat ini adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu."
Jalan yang lurus artinya jalan yang tidak bengkok, yaitu agama Islam; sebagai jalan yang dapat mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya.
Ibnu 'Abbas berkata tentang tafsir Ash Shirat (jalan), "Yaitu Islam."
Ibnu Mas'ud berkata, "Yaitu Al Qur'an."
Bakr bin Abdullah Al Muzanniy berkata, "Yaitu jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."
Sa’id bin Jubair berkata, “Jalan menuju surga.”
Sahl bin Abdullah berkata, “Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.”
Dalam ayat di atas terdapat dalil, bahwa jalan yang bisa mengantarkan seseorang kepada Allah dan surga-Nya adalah jalan atau agama Islam, dan bahwa agama-agama selain Islam tidak dapat mengantarkan pemeluknya menuju Allah dan surga-Nya.
Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia saja, jika kita ingin ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja yang bisa mengantarkan ke tempat tersebut?”
Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di dunia, karena semua jalan itu tidak ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan surga-Nya, Dia telah menutup semua jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu Islam saja.
Lebih jelasnya adalah apabila seseorang hendak pergi ke sebuah kerajaan, dimana seebelumnya jalan-jalan ke arah sana banyak jumlahnya, namun raja itu menutup semua jalan kecuali satu saja, maka kita tidak bisa melewati jalan-jalan yang lain selain jalan yang dibukanya saja.
Tentang tafsiran Islam sebagai jalan yang lurus disebutkan dalam hadits berikut:
Dari Nawwas bin Sam'an dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda :
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang terjulur. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian ke kanan dan ke kiri.’ Dan ada juga penyeru yang menyeru dari atas shirath, jika ada seseorang hendak membuka sebuah pintu dari pintu-pintu tersebut, maka ia berkata, ‘Celakalah kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya’. Ash-Shirath itu adalah Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah ﷻ. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah ﷻ. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an). Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”
HR. Ahmad No. 17634, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, dan dinyatakan sahih oleh al-Arnauth
Syaikh Abdullah Al Qar'awiy dalam risalahnya "Tafsir suratil Fatihah" berkata tentang pendapat pendapat yang ada tentang tafsir Ash Shirat, "Semua tafsiran tentang Ash Shirat tersebut adalah benar. Shirat adalah Islam, Al Qur'an dan Rasul, karena orang yang mengikuti Islam, maka ia mengikuti Al Qur'an dan mengikuti Rasul.
Orang yang mengikuti Al Qur'an, maka ia mengikuti Islam dan Rasul.
Orang yang mengikuti Rasul, maka ia mengikuti Islam dan Al Qur'an.
Oleh karena itu, barang siapa yang istiqamah dan tetap di atas jalan yang lurus (yang maknawi) di dunia, maka dia akan tetap dan istiqamah di atas shirat (yang hissiy/dapat dirasakan) di akhirat."
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sejauh keteguhan seorang hamba di atas jalan yang Allah gariskan dalam kehidupan di dunia, maka sejauh itu pula keteguhannya di atas jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam.
Bagaimana perjalanan seorang hamba di atas jalan yang Allah gariskan, maka sesuai itu pula perjalanannya di atas jembatan nanti.
Oleh karena itu, di antara mereka ada yang melewatinya secepat kilat, dan ada yang sekejap mata…dst. Maka hendaknya seorang hamba memperhatikan dirinya di atas jalan yang Allah gariskan dan membandingkan dirinya ketika nanti melintasi jembatan yang dibentangkan itu karena keadaannya sama persis sebagai balasan yang sesuai.
Bukankah kalian dibalas sesuai yang kalian kerjakan?” (Madarijus Salikin 1/35)
Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik dan karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menjatuhkan seorang mukmin ke dalam fitnah.
Ali dan Ubay bin Ka’ab berkata tentang kata “Ihdina,” yakni teguhkanlah kami. Sungguh berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena doa yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan doa ini sehingga mudah sekali terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya binasa –wal 'iyaadz billah-.
Disebutkan permintaan setelah pujian sungguh sangat tepat sekali dan seperti inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba ketika hendak meminta, yaitu memuja dan memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala dahulu, kemudian ia meminta kepada-Nya agar doa dan permintaannya lebih mustajab. Dalam ayat di atas terdapat dorongan kepada kita agar berdoa dan meminta kepada Allah Azza wa Jalla.
Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)