Tafsir Hidaytul Insan - Ustadz Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa hafidzahullahu ta'alaTafsir Al
Al Fatihah (1) ayat 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Na'budu diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang berhak disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta, takut, dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga: rasa cinta kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala, dan rasa
berharap.
Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah.
Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala semata.
Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti berdoa, ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan, berkurban, dan bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala.
Disebutkan ibadah sebelum isti'anah (meminta pertolongan) adalah untuk mendahulukan hak Allah di atas hamba-Nya.
Faedah didahulukan maf’ul (obyek) dan faedah iltifat (pengalihan)
Didahulukannya maf’ul (obyek), yaitu kata “Iyyaaka” (hanya kepada-Mu) dan diulanginya memberikan faedah ihtimam dan hashr, yakni untuk diperhatikan dan untuk membatasi ibadah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Sedangkan faedah adanya iltifat (pengalihan) dari kalimat yang susunannya gaib (k.ganti ketiga, seperti: dia, mereka, dsb.) menjadi mukhathab (k. ganti orang kedua, seperti: kamu, engkau, kalian.) adalah karena ketika seseorang memuji Allah, maka seakan-akan ia semakin dekat dan berada di hadapan-Nya. Oleh karena itulah, ia mengatakan “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.
Nasta'iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti'aanah yang artinya mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Dalam ayat ini terdapat obat terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat terhadap penyakit riya', 'ujub (bangga diri), dan sombong.
Disebutkannya isti'anah kepada Allah Ta'ala setelah ibadah memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan bahwa ibadah adalah maksud atau tujuannya, sedangkan isti’anah adalah wasilah (sarana) kepadanya.
Qatadah berkata tentang Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, “Dia (Allah) memerintahkan kamu untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan agar kamu meminta pertolongan-Nya dalam semua urusan kamu.”
Inti makna ‘wa iyyaka nasta’iin’ adalah hanya kepada Engkau ya Allah kami meminta pertolongan untuk dapat menaati-Mu dan dan untuk melakukan semua urusan kami.
Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan demikian, maksud Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami bertawakkal. Makna seperti ini sama seperti yang disebutkan dalam surat Huud: 123, Al Mulk: 29, dan Al Muzzammil: 9.
Sebagian kaum salaf berkata, “Al Fatihah adalah rahasia Al Qur’an. Rahasianya adalah pada kalimat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” dimana yang pertama (Iyyaaka na’budu) terdapat sikap berlepas diri dari syirk, sedangkan pada yang kedua (wa iyyaka nasta’iin) terdapat sikap berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri serta menyerahkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Seorang hamba bisa berada dalam kenikmatan, sehingga dia butuh bersyukur, atau berada dalam ketaatan sehingga butuh memohon pertolongan dari Allah, atau terjatuh ke dalam maksiat sehingga butuh istighfar.
Oleh karena itulah kalimat yang bermanfaat dan mencakup adalah ucapan Alhamdulillah, hauqalah (Laa haula wala quwwata illa billah), dan kalimat istighfar." (Majmu Fatawa juz 18 hal. 285)
Ia juga berkata, “"Seorang hamba butuh di setiap waktu memohon pertolongan kepada Allah untuk dapat menaati-Nya, meneguhkan hatinya, dan tidak ada upaya untuk melaksanakan perintah Allah serta kekuatan untuk menjauhi larangan Allah kecuali dengan pertolongan Allah." (Jami'ul Masa'il 2/250).
Berdasarkan ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan.
Perlu diketahui, bahwa perbuatan dikatakan ibadah jika diambil dari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala.
Demikian pula perlu diketahui, bahwa isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:
1. Isti’anah Tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan kehinaan, pasrah dan sikap harap. Hal ini hanya boleh kepada Allah saja, syirik hukumnya jika mengarahkan kepada selain Allah.
2. Isti’anah Musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan orang lain untuk turut membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.
Dalam ayat di atas juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada kita bagaimana bertawassul (menggunakan sarana) agar doa kita mustajab, yaitu memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, serta hanya meminta pertolongan kepada-Nya; tidak kepada selain-Nya. Inilah di antara adab berdoa. Dan dalam As Sunnah diterangkan pula adabnya, yaitu menambah pula dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Faedah:
Setelah Imam Al Baidhawi menulis kitab Tafsirnya yang bernama ‘Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil’ maka ia pergi ke Bagdad untuk menunjukkan kitab itu kepada Sultan dengan harapan boleh jadi ia mendapatkan sedikit pemberian darinya untuk meringankan beban hidup dan musibah yang menimpanya.
Saat di perjalanan menuju ke sana ia berjumpa dengan salah seorang syakh di sebuah kampung dan singgah bertamu di sisinya, lalu Syaikh itu bertanya, “Ke mana kamu hendak pergi?” Ia (Al Baidhawi) menjawab, “Ke Bagdad.” Ia ditanya lagi, “Apa yang engkau inginkan di sana?” Ia menjawab, “Aku telah menulis kitab tafsir dan telah mengerahkan kemampuan untuk merapihkan dan menatanya, dan aku punya beberapa putri yang sudah dewasa, aku butuh menyiapkan pernikahannya namun aku tidak punya harta, maka aku hendak pergi ke Sultan dengan harapan ia mau memberiku sesuatu yang
bisa kugunakan untuk persiapaan pernikahan mereka.”
Lalu syaikh itu bertanya kepadanya, “Apa tafsirmu terhadap firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in?” Al Baidhawi menjawab, “Kami menafsirkannya dengan ‘kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu saja dan tidak memohon pertolongan kecuali kepadaMu.” Maka Syaikh itu balik berkata, “Lalu mengapa engkau malah meminta pertolongan kepada selain-Nya?!”
Ternyata nasihatnya itu menyentuh hati Imam Al Baidhawi, ia pun sadar dan pulang dan tidak melanjutkan ke Bagdad.”
Para ulama berkata, “Oleh karena itulah, Allah jadikan tafsirnya diterima, sehingga para ulama mendatanginya dari berbagai penjuru baik di masa hidupnya maupun setelah wafatnya, dan mereka menyempatkan memberikan ta’liq (komentar) dan catatan pinggir terhadapnya, sehingga memperoleh manfaat yang besar.”
Renungan
Ibnu Uyaynah rahimahullah berkata, "Suatu ketika Hisyam masuk ke Ka'bah, ternyata ditemuinya Salim bin Abdullah, lalu ia berkata, "Mintalah kepadaku kebutuhanmu!" Salim menjawab, "Aku malu kepada Allah meminta kepada selain-Nya di rumahNya."Ketika keduanya keluar, maka Hisyam berkata, "Sekarang, mintalah kepadaku hajatmu!" Salim berkata, "Äpakah terkait kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?"
Hisyam menjawab, "Terkait kebutuhan dunia."Salim menjawab, "Demi Allah, aku saja tidak meminta terkait kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), lalu bagaimana aku meminta kepada orang yang tidak memilikinya." (Siyar A'laamin Nubala karya Adz Dzahabi 4/466)
Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)