001. Al Fatihah ayat 7

Tafsir Hidaytul Insan - Ustadz Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa hafidzahullahu ta'ala

Al Fatihah (1) ayat 7


صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dalam membaca lafaz ini ' عَلَيْهِمْ ' jika mengikuti bacaan Ashim melalui dua perawinya, yaitu Hafsh dan Syu’bah adalah dengan tidak berhenti di sini, karena mereka mengikuti penghitungan ayat ala Kufah, bahwa ayat ini adalah ayat ketujuh hingga akhirnya, dimana penghitungan ala Kufah menjadikan basmalah sebagai ayat pertama.

Di samping itu, kaedah menyatakan tidak dibenarkan memulai dari kata yang berakhiran kasrah kecuali jika sebagai awal ayat, sedangkan lafaz ‘ غَيْرِ ’ bukan sebagai awal ayat, sehingga tidak memulai dari lafaz ini ‘ غَيْرِ ’. Adapun jika mengikuti penghitungan ala Madinah, maka lafaz ‘ غَيْرِ ’ sebagai awal ayat ketujuh, karena penghitungan ala Madinah tidak menjadikan basmalah sebagai ayat pertama, demikian penjelasan guru kami (Ust. Marwan) Syaikh Ahmad Nafi hafizhahullah.

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh berdasarkan surat An Nisaa': 69. Jalan merekalah yang kita minta. Merekalah ahlul hidayah wal istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan beramal).

Sungguh indah sekali ketika dalam ayat ini disebutkan fa’il (pelaku)nya, yaitu dalam firman-Nya, “Engkau berikan nikmat kepada mereka,” sedangkan untuk orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat tidak disebutkan fa’il (pelakunya) meskipun sebenarnya fa’ilnya adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.  Ayat ini sama seperti dalam surah Al Jin: 10¹

Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai (mengetahui namun tidak mau beramal).

Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga mereka tersesat (beramal tanpa berilmu).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sepatutnya seseorang belajar agama agar tidak termasuk orang-orang yang tersesat (Nasrani), serta menjalankan ibadah agar tidak termasuk orang-orang yang dimurkai (Yahudi)." (Akham minal Quran (1/51))

Perumpamaan tiga golongan di atas adalah seperti seperti tiga orang yang hendak menuju sebuah lokasi. Golongan pertama (yang Allah berikan nikmat), mempelajari rute ke lokasi yang dituju, lalu mengikuti rute tersebut sehingga sampai ke lokasi, golongan yang kedua mengetahui rute ke lokasi, namun ia tidak mengikuti rute tersebut sehingga tidak sampai ke lokasi, sedangkan golongan yang ketiga ingin ke lokasi, namun tidak mempelajari rute ke sana sehingga salah jalan (tersesat).

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sesungguhnya sebagai orang-orang yang dimurkai dan sesat, akan tetapi orang-orang Yahudi lebih khusus lagi sebagai orang-orang yang dimurkai sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat Al Maa’idah: 60², sedangkan orang-orang Nasrani lebih khusus lagi sebagai orang-orang yang sesat sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat Al Maa’idah: 77³ .

Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan), dan dhalaal (tersesat). Demikian pula terdapat perintah agar kita mengakui nikmat Allah, meminta ditunjukkan teladan yang baik, dorongan menempuh jalan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat serta peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang menyimpang.

Kata shirat bisa dibaca dengan sin, dan bisa dibaca dengan zay. Hamzah membacanya dengan mengiymamkan zay, semua itu merupakan lughat (bahasa) yang benar, akan tetapi yang terpilih menurut kebanyakan para qari adalah membaca dengan shad karena sesuai dengan mushaf.

Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan "aamiiiiiin," atau boleh juga dipendekkan alifnya menjadi “Amiin,” arti Amin adalah, "Ya Allah, kabulkanlah.” Menurut Imam Tirmidzi, arti amin adalah, “Ya Allah, janganlah Engkau kecewakan harapan kami.” Dalil dianjurkannya mengucapkan aamiin adalah hadits berikut:

Dari Wail bin Hujr ia berkata.

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقْرَأُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ ) فَقَالَ : آمِيْنَ مَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

Aku mendengar Rasulullah SAW membaca “ghairil maghdhub bi'alaihim walaadh-dhalin" lalu beliau mengucapkan : Aamiiin dengan memanjangkan suaranya.
(HR at-Tirmidzi, Abu Dâud dan Ibnu Mâjah dan dishahihkan al-Albâni dalam kitab al-Misykah no 845).

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Kawan-kawan kami (yang semadzhab) dan lainnya mengatakan, “Dianjurkan juga hal itu (mengucapkan amin) bagi orang yang berada diluar shalat dan lebih ditekankan lagi bagi orang yang shalat, baik ia shalat sendiri, sebagai imam, sebagai makmum, dan dalam semua keadaan.” (Al Mishbahul Munir fii Tahdzib tafsir Ibni Katsir hal. 28)

Imam Al Baghawi menjelaskan, bahwa disunahkan bagi orang yang selesai membaca Al Fatihah untuk mengucapkan “Aamiiin” yang terpisah dari surat Al Fatihah dengan adanya saktah (diam sejenak tanpa melepaskan nafas).

Kata Aamiin tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf. 

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata, "Tidak dianjurkan menambahkan kata amin dengan kata lainnya seperti mengucapkan Amin ya Robbal alamin karena tidak disebutkan dalam as-sunnah." (Syarh Bukhari 4/389)

Faedah:
Syaikh As Sam'ani rahimahullah berkata, "Orang-orang pernah bermimpi bertemu beliau (Manshur Al Khayyath yang wafat 499 H) setelah wafatnya. Ada seorang yang berkata kepadanya, "Apa yang Allah lakukan terhadapmu?" Beliau (Imam Manshur) menjawab, "Allah mengampuni dosaku karena aku mengajarkan surah Al Fatihah kepada anak-anak." (Ma'rifatul Qurra Al Kibar (1/256) dan Ghayatun Nihayah (2/75))

Di kalangan umat ini ada orang yang mendapatkan ilham dan mimpi yang benar serta firasat. Itu semua merupakan karamah dan kabar gembira selama sesuai syari'at. Namun ilham, mimpi dan firasat bukanlah sumber rujukan 'Aqidah dan hukum Islam. Oleh karena itu, kita tidak mengatakan bahwa semua itu merupakan hujjah syar'i, ia adalah cahaya dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Jika sesuai syari'at, maka syariat itulah yang menjadi hujjah.

Kandungan surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun mengandung banyak ilmu. Di dalamnya terdapat tiga tauhid yang diperintahkan; tauhid rububiyyah (dari ayat "rabbil 'aalmiin"), tauhid uluhiyyah (dari ayat "iyyaaka na'budu") dan tauhid asmaa' wash shifat dengan menetapkan semua sifat sempurna bagi Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat "Al Hamdulillah,” karena nama-nama dan sifat-sifat Allah semuanya terpuji dan merupakan pujian bagi Allah Ta'ala.

Demikian juga menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil dari ayat "Ihdinash shiraathal mustaqiim", karena jalan yang lurus tersebut adalah jalan yang diterangkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Surat ini juga menetapkan adanya jazaa' (pembalasan amal) dan bahwa hal itu dilakukan dengan adil berdasarkan ayat "Maaliki yaumiddiin". 

Surat ini juga menguatkan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang masalah qadar, yakni bahwa semua terjadi dengan qadar Allah dan qadhaa'-Nya, dan bahwa seorang hamba melakukan perbuatannya secara hakikat; tidak dipaksa dalam berbuat. Hal ini dapat diketahui dari ayat "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin".

Surat ini juga menerangkan pokok kebaikan, yaitu ikhlas, sebagaimana diambil dari ayat " Iyyaaka
na'budu wa iyyaaka nasta'iin". 

Karena surat ini begitu agung dan mulia, Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya membacanya di setiap rakat dalam shalat mereka baik shalat fardhu maupun sunat.

Di surat tersebut Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana mereka memuji dan menyanjung-Nya, lalu mereka meminta kepada Tuhan mereka segala yang mereka butuhkan.

Di surat ini pun terdapat bukti butuhnya mereka kepada Tuhan mereka, baik butuhnya hati mereka untuk dipenuhi rasa cinta dan pengenalan kepadaNya dan butuhnya mereka agar dibantu dalam menyelesaikan urusan mereka serta diberi taufiq agar dapat mengabdi kepada-Nya.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Surat yang mulia ini yang berjumlah tujuh ayat mengandung pujian dan pengagungan bagi Allah serta sanjungan untuk-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang indah yang menunjukkan sifat-sifat-Nya yang tinggi, menyebutkan akhirat yaitu hari pembalasan, membimbing hamba agar meminta dan merendahkan diri kepada-Nya serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam
beribadah kepada-Nya Tabaaraka wa Ta'aala, mensucikan-Nya dari sekutu, serupa dan sebanding, serta agar mereka meminta kepada-Nya hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, meneguhkan mereka di atasnya sampai melewati shirath (jembatan) yang dapat dirasakan pada hari Kiamat yang dapat membawa mereka ke surga yang penuh kenikmatan di dekat para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Surat ini juga mengandung dorongan beramal saleh agar mereka termasuk orang-orangnya pada hari Kiamat serta peringatan agar menjauhi jalan-jalan yang batil agar mereka tidak dikumpulkan bersama mereka yang menempuhnya pada hari Kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat.” (Al Mishbahul Munir fii tahdzib tafsir Ibni Katsir hal. 27 cet. Darussalam)

Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih lanjut surat Al Fatihah

Perlu diketahui, bahwa semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Berikut ini contohnya:

Firman Allah, "Al hamdulillahi." diterangkan oleh surat Al Baqarah: 186 dan 286.

Firman Allah, "Rabbil 'aalamiin" diterangkan oleh surat Al Baqarah: 21-22 dan 29.

Firman Allah, "Ar Rahmaanir rahiim" diterangkan oleh surat Al Baqarah: 37 dan 126

Firman Allah, "Maaliki yaumiddin." diterangkan oleh surat Al Baqarah: 284.

Firman Allah, "Iyyaaka na'budu." diterangkan oleh surat Al Baqarah secara lebih rinci, dimana di sana diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama'ah, shalat khauf, shalat Ied, zakat, puasa, I'tikaf, sedekah, umrah dan haji, mu'amalah secara Islam, warisan, wasiat, berbagai masalah pernikahan, penyusuan anak, nafkah,tentang hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak dan orang yang murtad, tentang jihad, tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan (qadhaa'), persaksian, memerdekakan budak, dsb. Semua ini merupakan bab-bab syari'at yang diterangkan dalam surat Al Baqarah.

Firman Allah, "Wa iyyaka nasta'iin" mewakili ilmu tentang akhlak.

Firman Allah, "Ihdinash shiraathal mustaqiim." diterangkan dalam surat-surat setelahnya yang menyebutkan jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal hamdulillahi rabbil 'aalamiin.

Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)

1. Al-Jinn:10

وَأَنَّا لَا نَدْرِىٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui (adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya.

2. Al-Ma'idah:60

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ ٱلْقِرَدَةَ وَٱلْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ ٱلطَّـٰغُوتَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

Katakanlah (Muhammad), "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi1 dan (orang yang) menyembah Tagut." Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

3. Al-Ma'idah:77

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus."

Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)