079. An Naziat ayat 6-14

Ayat 6-14: Membicarakan tentang hari Kiamat, keadaan kaum musyrik yang mengingkarinya, dan keadaan mereka pada hari Kiamat

يَوْمَ تَرْجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ

6. (Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam,

Ayat ini seperti firman Allah Ta’ala di surat Al Muzzammil ayat 14

تَتْبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ

7. (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.

Ayat ini seperti firman Allah Ta’ala di surat Al Haqqah ayat 14

Jarak antara tiupan pertama dengan kedua adalah 40. Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ما بيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أرْبَعُونَ، قالَ: أرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قالَ: أبَيْتُ، قالَ: أرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قالَ: أبَيْتُ، قالَ: أرْبَعُونَ سَنَةً؟ قالَ: أبَيْتُ، قالَ: ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّماءِ ماءً فَيَنْبُتُونَ كما يَنْبُتُ البَقْلُ، ليسَ مِنَ الإنْسانِ شَيءٌ إلّا يَبْلى، إلّا عَظْمًا واحِدًا، وهو عَجْبُ الذَّنَبِ، ومِنْهُ يُرَكَّبُ الخَلْقُ يَومَ القِيامَةِ.

“Jarak antara kedua tiupan empat puluh.” Abu Hurairah bertanya, “(Apakah) empat puluh hari.” Beliau menjawab, “Aku belum bisa memastikan.” Abu Hurairah bertanya, “(Apakah) empat puluh bulan.” Beliau menjawab, “Aku belum bisa memastikan.” Abu Hurairah bertanya, “(Apakah) empat puluh tahun.” Beliau menjawab, “Aku belum bisa memastikan.” Beliau bersabda, “Kemudian Allah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya tanaman. Tidak ada sesuatu pun dari jasad manusia kecuali telah hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekornya ( عَجْبُ الذَّنَبِ ), dan dari sanalah manusia tersusun kembali pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari 4935 dan Muslim 2955)

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ

8. Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut,

Karena melihat peristiwa dahsyat dihadapannya

أَبْصَـٰرُهَا خَـٰشِعَةٌ

9. pandangannya tunduk.

يَقُولُونَ أَءِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِى ٱلْحَافِرَةِ

10. (orang-orang kafir) berkata, "Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?

Setelah orang-orang kafir mendengar adanya hari kebangkitan setelah mati, maka mereka merasa heran dan mengejeknya, karena menurut mereka tidak ada hari kebangkitan itu. Itulah sebabnya mereka bertanya demikian

أَءِذَا كُنَّا عِظَـٰمًا نَّخِرَةً

11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?"

Ada yang membaca dengan dipanjangkan nunnya menjadi “ نَّاخِرَةًۭ “ , ini adalah qiraat Syu’bah, Hamzah, Ali, Ruwais, dan Khalaf, sedangkan yang lain memendekkannya.

قَالُوا۟ تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

12. Mereka berkata, "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan."

Mereka menganggap mustahil kebangkitan itu karena tidak tahunya mereka terhadap kekuasaan Allah dan tidak takutnya mereka kepada kebesaran-Nya. Muhammad bin Ka’ab berkata, “Kaum Quraisy berkata, “Sungguh, jika Allah menghidupkan kita setelah kita mati, tentu kita akan merugi.”

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan tentang mudahnya perkara itu.

فَإِنَّمَا هِىَ زَجْرَةٌ وَٰحِدَةٌ

13. Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menyuruh Israfil meniup sangkakala sebagai tiupan kebangkitan, maka tiba-tiba manusia bangkit menghadap Allah Azza wa Jalla. Hal ini menunjukan kemahakuasaan Allah Azza wa Jalla.

فَإِذَا هُم بِٱلسَّاهِرَةِ

14. Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru).

Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di permukaan bumi yang datar (bumi padang mahsyar), dan mereka berdiri menunggu keputusan-Nya. Ketika itu, Dia memutuskan mereka dengan adil dan memberikan balasan kepada mereka. Mujahid berkata, “Sebelumnya mereka di bawah bumi, lalu mereka dikeluarkan ke atasnya.”

Dari ayat 1-14 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: 

(1) Allah Ta’ala berhak bersumpah dengan makhluk-Nya yang Dia kehendaki; berbeda dengan para hamba, dimana mereka tidak boleh bersumpah dengan nama selain-Nya, 

(2) ruh orang mukmin akan dicabut dengan mudah tidak merasakan penderitaan yang dirasakan orang kafir, 

(3) menetapkan kebangkitan dan pembalasan terhadap amal.