Al Fatihah (1) ayat 4
مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
4. Pemilik hari pembalasan
Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. Ini adalah qiraat Ashim, Kisa’i, dan Ya’qub. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya, dimana tidak ada seorang pun yang mendakwakan sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya
(lihat surat An Naba’: 38, Thaahaa: 108-109, dan Huud: 105),
Demikian pula semua kerajaan sirna, sehingga tidak ada kerajaan dan keputusan kecuali milik-Nya (lihat QS. Al Furqan: 26).
Pada hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat adalah sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.
Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
يَقْبِضُ اللهُ تَعَالَى اْلأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاوَاتِ بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوْكُ اْلأَرْضِ
Allah Ta’ala menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman: ‘Aku adalah Raja (yang sesungguhnya), manakah raja-raja di bumi?
HR. Al-Bukhari (no. 4812, 6519, 7382)
Yaumiddin artinya hari penghisaban makhluk atau hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalnya baik atau buruk.
Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya.
Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari
akhir; hari dimana amalan diberikan balasan.
Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal saleh dan menjauhi diri dari kemaksiatan.
Disebutkan, bahwa seseorang pernah mencaci-maki Umar bin Abdul Aziz, lalu ia menjawab, "Kalau
bukan karena ada hari Kiamat, tentu engkau kubalas. " (Natsrud Dur 1/285)
Dari ayat 1-4 dapat ditarikan banyak kesimpulan, di antaranya: Allah Ta’ala menyukai pujian. Oleh karena itu, Dia memuji Diri-Nya dan memerintahkan para hamba untuk memuji-Nya, dan Dia berhak memperoleh segala pujian karena keadaan-Nya sebagai Rabbul alamin, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan yang menguasai hari pembalasan, demikian juga karena beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya (lihat tafsir ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin).
Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)