001. Al Fatihah ayat 2

Tafsir Hidaytul Insan - Ustadz Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa hafidzahullahu ta'ala

Al Fatihah (1) ayat 2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam

Alhamdu artinya segala puji, karena Alif dan Lam pada kata Al Hamdu adalah lil istighraaq (untuk menyeluruh sehingga diartikan “segala puji”). 

Memuji dilakukan karena perbuatannya yang baik. Maka memuji Allah berarti menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti melimpahkan karunia dan berbuat adil, 

Juga karena nama-nama-Nya yang indah, karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan Tinggi yang tidak ada cacat sama sekali, dan karena nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk-Nya baik nikmat yang berkaitan dengan agama maupun dunia. 

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berhak mendapat pujian juga karena kebijaksanaan-Nya, baik pada firman-Nya, perbuatan-Nya, syariat yang Dia tetapkan dalam agama-Nya, dan taqdir-Nya yang Dia tetapkan di alam semesta.

Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al Hamdu adalah menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan pengagungan; baik kesempurnaan dzaat, sifat, maupun perbuatan-Nya." Dengan demikian dalam memuji Allah Ta'ala harus disertai rasa cinta dan pengagungan serta ketundukan, karena jika tidak seperti ini bukan merupakan pujian yang sempurna.

Kita menghadapkan segala puji bagi Allah adalah karena dari Allah sumber segala kebaikan yang kita peroleh. 

Di dalam ayat ini mengandung perintah kepada semua hamba agar memuji Allah Ta'ala. Lam pada kata “Lillahi” menunjukkan istihqaq (keberhakan).

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Allah Ta'ala berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi dan dalam setiap keadaan. Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan hal yang menyenangkan mengucapkan "Al Hamdulillahilladziy bini'matihi tatimmush shaalihaat" (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya amal shalih menjadi sempurna), 

dan ketika Beliau memperoleh selain itu, Beliau tetap mengucapkan "Al Hamdulillah 'alaa kulli haal" (segala puji bagi Allah dalam semua keadaan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3803) dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah (265).

Said bin Jubair rahimahullah berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang senantiasa memuji Allah dalam setiap keadaan, atau mereka yang memuji Allah baik di saat lapang maupun sempit." (Az Zuhd karya Ibnul Mubarak hal. 206)

Rabb (Tuhan) berarti Tuhan yang ditaati, Yang Memiliki, Mendidik, Mengurus dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali jika ada idhafat/sambungannya, seperti rabbud daar (tuan rumah), dsb. Ada yang mengatakan, bahwa Ar Rabb adalah Al Ismul A’zham (Nama Allah Yang Agung).

Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah, yakni menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara alam semesta. 

'Alamiin (semesta alam) artinya segala yang ada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala atau apa saja yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat, alam bagian bawah maupun alam bagian atas; yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam jin, alam malaikat, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati, dan sebagainya. 

Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang menciptakan semua makhluk, yang mengurus urusan mereka, mengurus semua makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya dan mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang shalih.

Dengan demikian, pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang umum dan ada yang khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya mereka, diberi-Nya rezeki, diberi-Nya mereka petunjuk kepada hal-hal yang bermaslahat bagi mereka agar mereka dapat hidup di muka bumi, sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya para wali-Nya dengan iman dan amal saleh atau diberi-Nya taufiq kepada setiap kebaikan dan dihindarkan dari semua keburukan. 

Mungkin inilah rahasia mengapa doa yang diucapkan para nabi kebanyakan menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi atau Rabbanaa). 

Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin; yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam semesta; tidak ada Rabb selain-Nya.

Ada yang mengatakan, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala disebut alam, karena semuanya menunjukkan keberadaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala Penciptanya, dan menunjukkan keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya.

Wallahu 'alam

Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)